Senin, 12 Mei 2014

Renungan Ketika Hujan



Senin,12 Mei 2014 – 20:09
Baru ku sadar umurku yang sudah 24 membuatku harus mulai benar – benar berpikir tentang apa yang sudah aku berikan, bukan apa yang mereka (orang tua) berikan padaku. Tapi sampai detik ini rasanya belum cukup apa yang ku berikan pada mereka, aku juga harus memikirkan pernikahan. Semakin banyak yang bertanya semakin bingung ku menjawabnya. Padahal rasanya belum puas ku memberi perhatianku pada mereka kini sudah harus membagi hatiku yang Cuma satu ini.
Galau...yah mungkin itu rasanya. Mungkin ada sebagian yang cepat – cepat menikah karena ingin segera menyempurnakan agamanya. Tapi buatku sebenarnya ingin rasanya membahagiakan ibuku. Membantu pengobatan ayahku. Ingin rasanya membantu pengobatan mereka. Ah sudahlah...lagian ini hanya angan – angan yang mungkin sebagian dari mereka hanya bisa mencela. Aku muak dengan mulut mereka yang hanya bisa mengejek. Padahal mereka lah yang mungkin tidak memikirkan apa yang ku pikirkan. Banyak rasanya yang ingin ku ungkap ke mereka. Mereka yang hanya bisa mencela.
Apalagi aku melihat mereka yang habiskan uang orang tua hanya untuk gaya – gayaan modif motor. Ban standart buat kecil. Terus balapan. Kalau jatuh ngrepotin orang tua lagi. Muak pada mereka yang sudah tau orang tuanya sudah lansia malah ngomongnya membentak, marah – marah bahkan ada yang ditaruh kamar seadanya. Muak dengan mereka yang sok aktivis membela negara, HAM padahal dirumah ibunya sudah sepuh (tua) menunggu kepulangannya. Muak dengan mereka yang mencemarkan nama orang tua dengan perbuatan mereka. Muak pada mereka yang masih nebeng orang tua padahal sudah menikah, apa – apa masih minta. Harusnya dia yang memutuskan menikah harusnya sudah siap mandiri.
Apa kalian tidak mikir apa yang dilakukan beliau untuk kalian. Sampai jika cinta tidak direstui kalian dengan mudah bilang orang tua kalian tidak pengertian, kaku dan banyak mintanya. Padahal pacarmu tidak akan pernah sesayang orang tuamu. Mana mau pacarmu kamu kencingi?kamu berakki?bersihkan muntahanmu dengan sabar. Slalu ada ketika kamu sakit dan ketika kamu butuh. Apa kalian tau dalam diam beliau ada sejuta doa dan harapan mereka untuk kita agar  sukses. Dan setelah tua apakah ini balasan kalian kepada orang tua kalian?meninggalkannya sendiri dirumah demi menyenangkan istri?apalagi laki – laki masih bertanggung jawab kepada ibunya sampai akhir hayatnya. Bukan menyalahkan istri, tapi aku hanya heran. Dan ini yang sampai sekarang maasih ku pertanyakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sialahkan Ungkapkan Perasaan Kalian