#darwis - Tere Liye
![]() |
| Suara Yang Tak Terdengar |
Usia
kalian hari ini mungkin rata-rata 20 tahun, bahkan ada yang lebih muda
dari itu, baru usia SMA. Sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya dengan
kalian, tapi karena hari ini waktu melesat cepat sekali, banyak di
antara kalian yang tidak lagi dekat dengan masa lalu meski itu hanya
15-20 tahun lalu saja--saat kalian masih balita.
Ketahuilah, sebelum tahun 1998, di negeri ini berlaku rezim yang keras sekali kepada kebebasan bicara.
Baik, sebelum kita bahas tentang itu, saya akan mundur lagi beberapa tahun. Ketahuilah, tahun 80-an, 90-an, mengenakan jilbab/kerudung itu bisa bikin masalah. Di-diskriminasi, diancam, difitnah, dituduh macam2. Tanyakanlah kepada orang tua kalian, mengenakan jilbab jaman itu sama saja dengan mencari penyakit--bisa diciduk untuk ditanyai. Apakah saya lebay? Sejarah tidak pernah lebay. Tapi "penguasa" selalu bisa menulis sejarah menurut versi mereka sendiri. Untuk kemudian terputus sejarahnya dari generasi berikutnya.
Kita kembali lagi ke soal kebebasan bicara. Maka, ketahuilah, satu sajak saya tentang pemerintah, yang saya posting dengan santainya di page ini hari ini, maka jika itu dirilis 20 tahun lalu, itu sama saja dengan mencari penyakit. Tidak terbayangkan jaman dulu kita bisa menyindir anggota DPR, mengkritik polisi, karena bahkan menyinggung camat saja bisa berakibat fatal. Tidak terbayangkan, dek, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri --karena saya sudah menulis di koran sejak tahun 1995. Kita hanya bisa memilih topik yang lurus dan aman. Tapi hari ini, semua orang bisa bicara apapun, termasuk memfitnah penguasa, aman-aman saja.
Jaman itu, kita bahkan masih punya "Menteri Penerangan", yang bertugas menerangkan apapun keinginan penguasa. Jangan coba2 menyinggung Jenderal, karena Angkatan Bersenjata Republik Indonesia belum seterbuka hari ini. Kelompencapir masih disiarkan oleh televisi, dan lomba tentang P4 bisa membawa kalian hingga ke ibukota, diliput dan masuk televisi juga. Penguasa mencengkeram erat banyak hal, termasuk apa yang harus dikatakan, apa yang harus ditulis, apa yang harus disuarakan.
Saya secara personal, bersyukur sekali jaman sudah berubah. Saya tahu, banyak yang malah bablas hari ini. Tulisan penuh gunjing, kebencian, dsbgnya bisa beredar luas. Tapi bagi penulis seperti saya, jika harus memilih masa lalu atau hari ini, saya memilih hari ini. Karena saya bisa melawan tulisan2 buruk tersebut dengan tulisan2 juga, propaganda dengan propaganda, pemahaman dengan pemahaman. Karena masa lalu, bahkan kita tidak punya "senjata" untuk melawannya. Coba saja menyindir prilaku korup penguasa, resikonya bisa lenyap dari muka bumi.
Masa-masa itu sepertinya sudah jauh sekali, bukan? Banyak orang yang bahkan sama sekali tidak tahu. Tapi negeri ini, ketahuilah, bahkan pernah mengalami masa gelap, kembali lagi ke soal jilbab, ketika seorang wanita yang hendak menunaikan perintah agama, berjilbab, tapi dia bisa dituduh menyebarkan racun di pasar. Wanita yang salehah, berjilbab, bisa dituduh teroris. Ketahuilah, negeri ini pernah mengeluarkan surat larangan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah.
Dan ketahuilah, jika usia kalian 20 tahun, masa - masa itu kalian masih balita atau belum lahir, maka ada yang sekarang usianya 60, masa-masa itu mereka adalah bagian dari kebengisan terhadap kebebasan orang lain. Entah besar atau kecil peran mereka.
Sejarah mungkin melupakannya. Sama lupanya orang2 dengan bahkan beberapa tahun lalu, Friendster lebih ramai dibandingkan media sosial manapun. Sejarah mungkin sudah melupakannya.
Ketahuilah, sebelum tahun 1998, di negeri ini berlaku rezim yang keras sekali kepada kebebasan bicara.
Baik, sebelum kita bahas tentang itu, saya akan mundur lagi beberapa tahun. Ketahuilah, tahun 80-an, 90-an, mengenakan jilbab/kerudung itu bisa bikin masalah. Di-diskriminasi, diancam, difitnah, dituduh macam2. Tanyakanlah kepada orang tua kalian, mengenakan jilbab jaman itu sama saja dengan mencari penyakit--bisa diciduk untuk ditanyai. Apakah saya lebay? Sejarah tidak pernah lebay. Tapi "penguasa" selalu bisa menulis sejarah menurut versi mereka sendiri. Untuk kemudian terputus sejarahnya dari generasi berikutnya.
Kita kembali lagi ke soal kebebasan bicara. Maka, ketahuilah, satu sajak saya tentang pemerintah, yang saya posting dengan santainya di page ini hari ini, maka jika itu dirilis 20 tahun lalu, itu sama saja dengan mencari penyakit. Tidak terbayangkan jaman dulu kita bisa menyindir anggota DPR, mengkritik polisi, karena bahkan menyinggung camat saja bisa berakibat fatal. Tidak terbayangkan, dek, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri --karena saya sudah menulis di koran sejak tahun 1995. Kita hanya bisa memilih topik yang lurus dan aman. Tapi hari ini, semua orang bisa bicara apapun, termasuk memfitnah penguasa, aman-aman saja.
Jaman itu, kita bahkan masih punya "Menteri Penerangan", yang bertugas menerangkan apapun keinginan penguasa. Jangan coba2 menyinggung Jenderal, karena Angkatan Bersenjata Republik Indonesia belum seterbuka hari ini. Kelompencapir masih disiarkan oleh televisi, dan lomba tentang P4 bisa membawa kalian hingga ke ibukota, diliput dan masuk televisi juga. Penguasa mencengkeram erat banyak hal, termasuk apa yang harus dikatakan, apa yang harus ditulis, apa yang harus disuarakan.
Saya secara personal, bersyukur sekali jaman sudah berubah. Saya tahu, banyak yang malah bablas hari ini. Tulisan penuh gunjing, kebencian, dsbgnya bisa beredar luas. Tapi bagi penulis seperti saya, jika harus memilih masa lalu atau hari ini, saya memilih hari ini. Karena saya bisa melawan tulisan2 buruk tersebut dengan tulisan2 juga, propaganda dengan propaganda, pemahaman dengan pemahaman. Karena masa lalu, bahkan kita tidak punya "senjata" untuk melawannya. Coba saja menyindir prilaku korup penguasa, resikonya bisa lenyap dari muka bumi.
Masa-masa itu sepertinya sudah jauh sekali, bukan? Banyak orang yang bahkan sama sekali tidak tahu. Tapi negeri ini, ketahuilah, bahkan pernah mengalami masa gelap, kembali lagi ke soal jilbab, ketika seorang wanita yang hendak menunaikan perintah agama, berjilbab, tapi dia bisa dituduh menyebarkan racun di pasar. Wanita yang salehah, berjilbab, bisa dituduh teroris. Ketahuilah, negeri ini pernah mengeluarkan surat larangan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah.
Dan ketahuilah, jika usia kalian 20 tahun, masa - masa itu kalian masih balita atau belum lahir, maka ada yang sekarang usianya 60, masa-masa itu mereka adalah bagian dari kebengisan terhadap kebebasan orang lain. Entah besar atau kecil peran mereka.
Sejarah mungkin melupakannya. Sama lupanya orang2 dengan bahkan beberapa tahun lalu, Friendster lebih ramai dibandingkan media sosial manapun. Sejarah mungkin sudah melupakannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sialahkan Ungkapkan Perasaan Kalian