Rabu- 14 Mei 2014 - 06:12
Rasa malas dalam lamunanku
terbayang ketika melihat berbagai lembar lowongan pekerjaan. Banyak yang tidak
sesuai dan ditambah sekarang banyak kecarut marutan dalam penerimaan kerja.
Yang paling jelas contohnya adalah perekrutan CPNS. Banyak sekali daerah yang
main kong kalikong “wani piro” dan banyak sistem “nitip” anak pejabat. Lalu
bagaimana negara kita akan smakin membaik kalau dari sistem peerekrutan CPNS
saja sudah bobrok. Meski ada beberapa yang murni lolos karena kepintaran
sejalan dengan hasilnya.
Kemudian beralih kesistem
perusahaan. Banyak dari mereka yang mengalihkan pandangan mereka dari jurusan pilihan waktu kuliah dan memilih lowongan kerja yang “lebih” mnjanjikan. Contohnya adalah jurusan pendidikan, psikologi, dan macam – macam lainnya yang memilih sebagai pegawai bank atau perusahaan lainnya yang mungkin “kurang sejalan” dengan ilmu yang dia dapatkan. Kemudian yang ekonomi dan manajemen yang tersisih justru menjadi guru. Lalu apakah itu salah? Tidak. Karena negara kita tidak menjamin kesejahteraan pada bidang mereka masing – masing.
perusahaan. Banyak dari mereka yang mengalihkan pandangan mereka dari jurusan pilihan waktu kuliah dan memilih lowongan kerja yang “lebih” mnjanjikan. Contohnya adalah jurusan pendidikan, psikologi, dan macam – macam lainnya yang memilih sebagai pegawai bank atau perusahaan lainnya yang mungkin “kurang sejalan” dengan ilmu yang dia dapatkan. Kemudian yang ekonomi dan manajemen yang tersisih justru menjadi guru. Lalu apakah itu salah? Tidak. Karena negara kita tidak menjamin kesejahteraan pada bidang mereka masing – masing.
Perusahaan asing juga semakin
“licik” ketika mempekerjakan rakyat kita. Menggunakan sistem outsourcing yang
model “tebang pilih”. Yang ketika usia sudah tidak produktif perusahaan tinggal
memutus kontrak mereka. Lalu mau kerja dimana mereka?itulah manusia ketika
sudah “memakan” sistem liberal. Mungkin cara mereka benar tapi untuk binatang.
Tapi untuk manusia sepertinya itu bukan hal yang bijak. Padahal begitu banyak
yang menggantungkan nasibnya pada pekerjaan itu.
Inilah yang membuatku resah.
Apalagi sekarang juga makin menjamur penipuan dengan model lowongan kerja.
Dasar manusia tak punya Hati “menjijikkan”!. Pemerintah juga seakan – akan
“membunuh” mereka yang coba berwirausaha dengan menekan pajak yang makin besar.
Padahal pemerintah bisa mendapatkan banyak pajak dari berbagai sektor lain
sayangnya banyak “Si Tikus” yang membuatnya tidak masuk ke Negara. Kalau bisa
sih bunuh aja tuh koruptor biar jera. Biar anak – anak tidak ada yang
menirunya.
Aahhhh sejenak lamunanku buyar
ketika melihat jam dinding. Waktunya menghadapi hidup yang masih semrawut ini.
Tapi Yah Alhamdulillah syukur aku panjatkan untuk semua nikmat yang masih aku
dapat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sialahkan Ungkapkan Perasaan Kalian