Selasa, 13 Mei 2014

Indahnya Pekerjaan di Negeriku



Rabu- 14 Mei 2014 - 06:12
Rasa malas dalam lamunanku terbayang ketika melihat berbagai lembar lowongan pekerjaan. Banyak yang tidak sesuai dan ditambah sekarang banyak kecarut marutan dalam penerimaan kerja. Yang paling jelas contohnya adalah perekrutan CPNS. Banyak sekali daerah yang main kong kalikong “wani piro” dan banyak sistem “nitip” anak pejabat. Lalu bagaimana negara kita akan smakin membaik kalau dari sistem peerekrutan CPNS saja sudah bobrok. Meski ada beberapa yang murni lolos karena kepintaran sejalan dengan hasilnya.
Kemudian beralih kesistem
perusahaan. Banyak dari mereka yang mengalihkan pandangan mereka dari jurusan pilihan waktu kuliah dan memilih lowongan kerja yang “lebih” mnjanjikan. Contohnya adalah jurusan pendidikan, psikologi, dan macam – macam lainnya yang memilih sebagai pegawai bank atau perusahaan lainnya yang mungkin “kurang sejalan” dengan ilmu yang dia dapatkan. Kemudian yang ekonomi dan manajemen yang tersisih justru menjadi guru. Lalu apakah itu salah? Tidak. Karena negara kita tidak menjamin kesejahteraan pada bidang mereka masing – masing.
Perusahaan asing juga semakin “licik” ketika mempekerjakan rakyat kita. Menggunakan sistem outsourcing yang model “tebang pilih”. Yang ketika usia sudah tidak produktif perusahaan tinggal memutus kontrak mereka. Lalu mau kerja dimana mereka?itulah manusia ketika sudah “memakan” sistem liberal. Mungkin cara mereka benar tapi untuk binatang. Tapi untuk manusia sepertinya itu bukan hal yang bijak. Padahal begitu banyak yang menggantungkan nasibnya pada pekerjaan itu.
Inilah yang membuatku resah. Apalagi sekarang juga makin menjamur penipuan dengan model lowongan kerja. Dasar manusia tak punya Hati “menjijikkan”!. Pemerintah juga seakan – akan “membunuh” mereka yang coba berwirausaha dengan menekan pajak yang makin besar. Padahal pemerintah bisa mendapatkan banyak pajak dari berbagai sektor lain sayangnya banyak “Si Tikus” yang membuatnya tidak masuk ke Negara. Kalau bisa sih bunuh aja tuh koruptor biar jera. Biar anak – anak tidak ada yang menirunya.
Aahhhh sejenak lamunanku buyar ketika melihat jam dinding. Waktunya menghadapi hidup yang masih semrawut ini. Tapi Yah Alhamdulillah syukur aku panjatkan untuk semua nikmat yang masih aku dapat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sialahkan Ungkapkan Perasaan Kalian